3 Hari Saja

Colombo. 15 April 2009. 14:08:43

Message delivered
Adyn
15-Apr-09 14:06

Aku memandangi telepon selular itu lebih lama dari waktu aku mengirimkan pesan kepadanya. Aku menantikan sebaris kalimat, atau setidaknya satu kata saja dari ia yang berada di Jakarta, berteguh pada janji yang pernah kami buat sebelumnya. Aku dan dia, akan kembali bersama saat aku telah tuntaskan tugasku di belahan dunia ini.

Kemudian aku hapus status pengiriman pesan ini, aku tutup telepon yang menemaniku setia dalam setiap waktuku. Aku alihkan pandanganku pada kari mangga dan kacang mede yang sedari tadi menantiku untuk menyantap mereka.

Yenna. Namaku adalah Yenna. Aku bekerja di kota ini sudah selama 14 minggu. Dan selama 14 minggu itu, tidak sedetikpun terlewat pesan dariku untuk Adyn, dan sebaliknya. Hingga sehari yang lalu. Tidak ada pesan baru di kotak pesan telepon selularku, surat elektronik, Facebook ataupun Friendster. Tidak ada satupun dari Adyn, yang telah 113 minggu menemani setiap hariku. Meski hanya sehari, ini sudah di luar kebiasaan kami.

Aku telah coba menghubungi keluarga Adyn di Jakarta, juga keluargaku di Bandung. Dan seperti telah ada kesepakatan di antara mereka, tidak ada satupun, dari mereka mengangkat telepon atau membalas pesan singkat yang aku kirim kepada mereka.

Aku kembali membuka kotak pesan masuk di telepon selularku, dan aku membaca beberapa pesan terakhir yang aku terima dari Indonesia.

Adyn
14-Apr-09 06:17
Na, hr ni ak jd prsntsi k Bogor. Brkt 9pg dg supr kntr.ak kbri lg nnt wkt lunch ya.cant wait to meet you.luv u hon.

Mama
14-Apr-09 20:17
Na, td adyn sms mama, katanya sms kamu tp nggk masuk2.adyn jdny nginep di bogor ktny, krn prsnts dia jdnya malam.kamu sibuk ap nak?

Mama
14-Apr-09 20:24
Tiket beres kn?Tgl 18, kt jd k tante Suryo lo.harus fitting.gk capek kn?nymp jkt kan 15 mlm.

Dan selanjutnya tidak ada pesan lain masuk ke teleponku itu. Sempat kupikir ada yang salah pada telepon selularku. Tapi setelah aku cek, aku yakin bahwa semua baik-baik saja.

Jakarta. 18 April 2009. 07:06:07

Aku tidak tahu kemana Yenna. Sudah 3 hari dari seharusnya ia sampai di Jakarta, ia menghilang. Entah di mana. Aku sudah mencarinya ke manapun terpikir olehku. Aku telepon ia, kukirim pesan singkat, tidak terbalas. Aku kirim pesan melalui surat elektronik dan juga Facebook, namun juga tidak ada balasan.

Aku ingat pesan terakhir yang aku terima darinya adalah pesan untuk ketemu di Bandung sehari sesudah ia sampai, atau 2 hari yang lalu. Tapi tak urung aku membuka kembali pesan terakhir itu.

Yenna Cinta
14-Apr-09 06:20
ok hon.ati2 ya,ntar klo ud samp kbri aku.oya,besok ak lgsg aj kali ya ke bandng, soalnya malm bgt br nyampe.ntar kt ktmu di sn tgl 16 sore aj ya.or km mau jmpt n antr ak k bandg?hehe..becanda kok,ak th km sibuk buat ngjar cuti kn?ak naik taxi aj,aman.

Aku mengetahui ada yang tidak beres saat siang hari tanggal 16 ibu Yenna meneleponku menanyakan apakah Yenna akhirnya mampir dulu di rumahku di Jakarta. Aku langsung hubungi Colombo, dan mereka menerangkan Yenna sudah meninggalkan kota itu pada hari yang telah dijadwalkan.

Bersama adiknya, kemudian aku periksa ke kantor penerbangan yang digunakan Yenna, dan mereka menyebutkan bahwa Yenna, penumpang di kursi 18C benar menaiki pesawat hari itu, dan telah meninggalkan pesawat bersama penumpang lain saat pesawat mendarat tepat waktu di Jakarta, meski sempat terhadang cuaca buruk.

Bahkan seorang pramugari mengingat Yenna dari foto yang kami tunjukkan, dan ia menyebutkan bahwa Yenna tampak sangat ceria, terutama setelah keluar dari toilet pesawat sebelum mendarat. Ia ingat Yenna karena ia yang mengetuk pintu kamar mandi, dan ia juga yang membangunkan Yenna yang tampaknya tertidur lagi saat pesawat mendarat di Jakarta.

Saat kami telusuri hingga pintu keluar, kami ketahui Yenna meninggalkan bandara dengan taksi kuning, menurut penjaga yang berjaga hari itu dan mengingat wajah Yenna.

Colombo. 15 April 2009. 14:15:04

Aku menggerutu sendiri, karena sampai hari berangkatku ini tidak ada seorangpun mengkonfirmasi akan menjemput aku di bandara. Meskipun aku juga sedikit merasa cemas, khawatir jika terjadi sesuatu dengan keluargaku dan Adyn.

Pesawat terbang sesuai jadwal, dan diperkirakan akan mencapai Jakarta sekitar pukul 23.00. Perjalanan yang panjang, dan aku tidak ingin menghabiskan perjalanan ini dengan mengkhawatirkan apa yang terjadi di Jakarta. Aku putuskan untuk tidur saja, apalagi semalam aku kelelahan karena menghadiri acara perpisahan yang diselenggarakan teman-teman kerjaku di Colombo.

Jakarta. 18 April 2009. 10:11:14

Kantor taksi menerangkan jika berdasar keterangan pengemudi yang mengantarkan Yenna, mereka berhenti di sebuah supermarket di daerah Mampang dan penumpang itu dikonfirmasikan adalah benar Yenna adanya.

Aku segera menuju supermarket itu dengan adik Yenna, dan mencari keterangan tentang belahan hatiku yang tak tentu keberadaannya ini.

Di Atas Sumatera. 15 April 2009. 22:22:22

Pilot baru saja menginformasikan saat ini kami sedang berada di langit pesisir timur Sumatera. 40 menit lagi diperkirakan pesawat akan mendarat di Jakarta.

Aku meregangkan badanku, dan memutuskan untuk ke kamar mandi. Aku mencuci wajahku dengan air hangat, setelah sebelumnya aku menggunakan toilet di dalam bilik yang sempit itu.

Tiba-tiba terdengar suara tanda lampu sabuk pengaman untuk dikenakan. Tak lama menyusul suara dari pramugari yang meminta seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduk dan memasang sabuk pengaman. Aku bergegas mengeringkan tanganku dan bermaksud untuk keluar dari bilik itu ketika terjadi turbulensi yang cukup besar.

Pesawat itu terguncang cukup kuat, sehingga aku tergelincir dan pelipisku terbentur sisi bilik cukup keras. Sesaat serasa dunia menjadi gelap dan aku tidak dapat melihat apa-apa. Namun tidak terlalu lama, sekitar 3 detik aku rasa, terdengar ketukan di pintu dan aku bisa mendengar suara pramugari untuk memintaku kembali ke tempat dudukku.

Aku segera kembali ke tempat dudukku di 18C, memasang sabuk pengamanku kembali dan menegakkan sandaran kursiku. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada pramugari yang tadi memintaku kembali ke tempat duduk, saat ia melalui tempat dudukku sembari memeriksa penumpang yang lain.

Aku jadi teringat kejadian kurang lebih setahun yang lalu, saat aku kembali dari Denpasar ke Jakarta, aku juga terbentur di kamar mandi pesawat karena turbulensi. Aku melihat jam tanganku, dan menyadari masih ada sekitar 30 menit lagi sebelum sampai di Jakarta. Demi memuaskan rasa kantuk yang kembali menyerang, aku putuskan untuk tidur lagi di tengah cuaca yang perlahan mulai membaik kembali.

Jakarta. 18 April 2009. 14:01:23

Manajer supermarket itu mempersilahkan aku untuk meminum teh yang sudah disiapkan oleh staffnya. Kami sudah menunggu selama sekitar 30 menit di ruangannya yang rapi, menanti kedatangan pegawai yang bertugas malam saat Yenna datang berbelanja di sana.

Tak lama ia datang, tampak ekspresi tegang di wajahnya saat memasuki ruangan itu. Sang manajer menenangkannya dan kemudian menjelaskan duduk perkara mengapa aku datang malam itu.

Aku menunjukkan foto Yenna kepada pria separuh baya itu, dan ia tampak mengingat-ingat sejenak. Dan kemudian ia teringat, wanita pembeli itu datang dengan taksi sudah lewat tengah malam. Ia membawa satu koper besar beroda, membeli satu pak kecil tissue, dan satu strip aspirin. Ia mengeluh sakit kepala, meski ia tetap bersikap ramah dan santun.

Aku tercenung, berusaha merangkai informasi yang aku dapat dari pegawai itu. Dan masih tidak habis pikir aku apakah barang yang dibeli Yenna akan bisa membantu aku untuk menemukannya, tiba-tiba pegawai itu menambahkan kalau Yenna juga membeli wafer keju panjang yang aku tahu menjadi kesukaanku.

Jakarta. 16 April 2009. 01:58:26

Aku memegang erat tas plastik yang berisi aspirin, tissue dan wafer kesukaan Adyn di tangan kananku. Sedangkan tangan kiriku menarik koper besarku, yang untungnya beroda cukup kuat sehingga dapat aku bawa dengan mudah dan nyaman.

Sejenak aku terbingung karena taksi yang tadi aku naiki sudah tidak ada, dan aku kemudian teringat kalau aku tadi membayarnya dan memintanya untuk pergi saja. Aku tercenung sejenak mentertawakan kebodohanku sendiri yang melupakan apa yang aku lakukan sesaat lalu.

Mungkin rasa pusing akibat terbentur di pesawat tadi membuatku tidak lagi dapat berkonsentrasi. Aku melihat jam tangan di tangan kiriku yang menunjukkan pukul 2 dini hari lewat. Aku memberhentikan taksi biru yang lewat, meletakkan kopor besar dibantu oleh pengemudi taksi itu, kemudian duduk di kursi belakang.

Jakarta. 18 April 2009. 22:02:13

Aku dan adik Yenna sudah merasa sangat putus asa. Kami mencari Yenna berkeliling wilayah seputaran supermarket itu tanpa hasil. Bahkan dibantu beberapa orang sepupu sejak 2 jam lalu, tetap saja tidak merubah fakta bahwa Yenna seperti hilang ditelan bumi.

Memang menurut penjaga supermarket itu, sesudah membayar, Yenna keluar dari supermarket membawa koper besarnya dan kemudian entah pergi ke mana.

Aku kemudian menghubungi ayah Yenna melalui telepon untuk mengabarkan pencarianku yang belum membuahkan hasil. Aku juga berharap bahwa calon ayah mertuaku itu memberitahukan bahwa Yenna sudah muncul di rumahnya di Bandung, namun harapanku akhirnya menjadi pupus mendengarkan penjelasan beliau tentang upaya pencarian Yenna di Bandung yang juga tidak membuahkan hasil.

Setelah kami menyepakati bahwa esok kami akan meminta bantuan polisi untuk mencari Yenna, akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama adik Yenna yang menginap di tempatku.

Dari tempat itu kami meluncur menuju rumahku yang ada di belahan utara jakarta, melalui jalan-jalan yang sudah lebih dari dua tahun ini aku akrabi bersama Yenna jika kami berpergian di seputaran Jakarta.

Aku mengingat setiap tempat yang pernah kami singgahi, dan setiap kejadian di setiap tempat itu. Kafe yang terkenal dengan kopinya, tempat aku memintanya menjadi kekasih hatiku, dan juga di tempat yang sama ia mempertanyakan kesungguhan hatiku enam bulan setelah kami bersepakat untuk menjalin hubungan. Tes kesetiaan, katanya waktu itu.

Kami melewati rumah sakit tempat aku menghabiskan seminggu yang aku hampir tidak ingat apa-apa kecuali Yenna selalu ada di sampingku untuk merawatku selama aku terkena demam berdarah. Saat itu keluargaku sedang berada di Makasar untuk pernikahan salah satu sepupu kami. Aku bahkan masih ingat rasa hangat tangannya menggenggam tanganku yang tergolek lemah.

Lalu aku melihat restoran di hotel tempat aku memberi kejutan dengan memintanya menjadi pendamping hidupku saat suka dan duka, selamanya. Aku juga mengingat wajah tersipunya saat berkata kesediaannya untuk menjadi istriku. Aku ingat sekali, semua orang yang ada di restoran itu memandang kami dengan senyum gembira. Untungnya waktu itu adalah waktu sarapan jadi tidak terlalu banyak orang di sana.

Ah Yenna, di manakah gerangan engkau berada?

Jakarta. 16 April 2009. 03:17:05

Aku merasa sangat lelah dan mengantuk. Setelah aku mendaftar di petugas depan hotel, dan meminta mereka untuk tidak mengganggu aku sampai jam makan siang, aku langsung menuju kamar yang selalu aku gunakan setiap kali aku menginap di hotel itu.

Setelah cepat-cepat mandi, aku bergegas menuju tempat tidur. Aku redupkan penerangan di kamar itu, aku tarik selimutnya dan tak lama kemudian aku terlelap.

Jakarta. 19 April 2009. 05:18:01

Aku terbangun karena mimpi buruk. Aku melihat Yenna berjalan di depanku dengan menarik koper besarnya, berjalan bergegas entah kemana. Dan aku berlarian di belakangnya, berusaha meraih dan memanggilnya, namun ia seperti tidak mendengarku.

Aku menghela nafasku, dan meletakkan selimutku ke samping. Kemudian aku melihat ke jam alarm di samping kiri ranjangku. 05:20:07. 19 April 2009.

19 April. Hari ini, satu tahun yang lalu, adalah hari saat aku mengejutkan Yenna di hotel tempatnya menginap. Waktu itu aku mempercepat kedatanganku dari Makasar, mendahului seluruh keluargaku. Aku sengaja melakukan itu untuk satu tujuan saja, mengejutkan Yenna untuk memintanya menjadi pendampingku.

Hari itu aku tahu Yenna menginap di hotel langganannya itu karena dia harus menemui beberapa orang teman yang datang dari Kuala Lumpur. Dia langsung menginap di hotel itu, setelah bertugas selama beberapa hari di Denpasar. Ia tidak kembali ke Bandung dulu karena ia mendarat di Jakarta sudah sangat larut. Aku memperoleh semua informasi itu dari adik Yenna di Bandung, karena sudah 3 hari sebelum aku menemuinya di hotel waktu itu, aku mengisenginya dengan tidak mengindahkan pesan singkat dan juga teleponnya. Kembali aku menghela nafasku.

Dan kemudian sebuah pikiran terlintas di pikiranku. Aku melompat turun dari tempat tidurku, tergesa.

Jakarta. 19 April 2009. 07:16:10

Tidurku semalam sangat lelap, karena lelah sudah dua hari aku bepergian bersama teman-temanku dari Kuala Lumpur. Tidak banyak yang kuingat tentang apa saja yang aku lakukan bersama mereka. Yang pasti aku ingat mereka menggodaku habis-habisan setiap kali aku membahas dan mengeluhkan soal Adyn yang tidak mengontakku sama sekali selama dia di Makasar.

Aku mengingat semua itu samar-samar, karena aku saat ini sedang berada dalam kondisi antara sadar dan tidak, antara bangun dan tidur. Kemudian aku mendengar tanda pesan diterima di telepon genggamku. Aku menjadi lebih sadar dan meraih telepon itu dan membaca pesan di dalamnya. Akhirnya ada pesan dari Adyn.

Adyn
19-Apr-08 07:15
Hon, bangun gih. Mandi, aku tunggu di restoran bawah secpatnya. Luv,yours.

Hah? Adyn, bukannya dia ada di Makasar? Kenapa dia ada di bawah? Aku segera melompat turun dari tempat tidurku, tergesa.

Jakarta. 19 April 2009. 07:15:10

Aku bergegas meninggalkan mobilku di tempat parkir. Setengah berlari aku menuju restoran di dekat lobby hotel itu. Aku menghambur ke dalamnya dan aku lihat ada beberapa orang sedang sarapan di sana.

Seorang pelayan mempersilahkan aku duduk, namun aku mengabaikannya. Aku langsung mendekati meja di sudut, tempat aku meminta Yenna setahun lalu untuk menjadi istriku. Namun meja itu kosong, sekosong saat aku melihatnya dari kejauhan.

Aku melepaskan pandanganku ke seluruh sisi restoran itu, berharap aku melihat sosok yang telah kucari selama 3 hari ini. Dan kembali aku hanya memperoleh kesia-siaan. Ia tidak ada di sana.

Aku tertunduk lemas, kemudian menelepon orang tua Yenna di Bandung. Ayahnya kemudian menyarankan aku untuk menghubungi petugas lobby depan, menitipkan informasi bahwa kami sedang mencari Yenna.

Jakarta. 19 April 2009. 07:45:10

Aku mengenakan kemeja putih favoritku. Aku memilih kemeja itu karena aku juga tahu Adyn selalu menyukai saat aku mengenakannya. Aku di dalam lift dengan harap-harap cemas, berdoa semoga pesan ini bukan salah satu keisengan Adyn yang lain setelah beberapa hari tidak membalas pesan singkatku dan juga tidak mengindahkan teleponku.

Ada perasaaan antara marah dan senang yang bercampur aduk di dalam hatiku. Jika benar Adyn ada di bawah, aku akan mencubitnya keras karena tidak menghubungi aku 3 hari terakhir ini.

Akhirnya lift itu sampai di lantai dasar, dan pintunya membuka. Saat itulah persis di depan pintu lift aku melihat pria yang mengisi hatiku selama lebih dari setahun belakangan ini, Adyn.

Jakarta. 19 April 2009. 07:45:47

Aku berhenti sejenak di depan pintu lift setelah berjalan perlahan dari restoran menuju lobby penerima tamu. Aku berdiri di titik yang sama saat aku menyambut Yenna turun dari lift, setahun lalu, sebelum ia menghambur ke arahku menangis dan mengomel di saat yang bersamaan.

Aku menghela nafasku, dalam. Dan saat itulah pintu lift terbuka.

Jakarta. 19 April 2009. 07:46:15

Aku tercenung sejenak di dalam lift, memandang Adyn yang juga memandangku dengan ekspresi yang terkejut. Tiba-tiba aku merasa sangat merindukan Adyn, terlupakan rasa jengkelku karena ia tidak menghubungi aku sama sekali beberapa hari terakhir. Terlupa bahwa seharusnya ia masih berada di Makasar bersama keluarganya. Terlupa juga rasa lelahku setelah bekerja beberapa hari di Denpasar dan bepergian dua hari dengan teman-temanku.

Aku melangkah pelan keluar dari lift itu, tersenyum dan kemudian menghambur ke arah Adyn.

Jakarta. 19 April 2009. 07:46:17

Nafasku tercekat, berhenti kaku. Ia ada di sana. Yenna ada di sana. Dengan kemeja putih yang sama yang ia kenakan tahun lalu. Aku terpaku tidak bisa bergerak. Antara cemas bahwa aku berkhayal, dan bahagia karena ia yang kukhawatirkan ada di sana dan baik-baik saja.

Aku tetap tercekat saat Yenna melangkah pelan keluar dari lift, lalu berlari menghambur ke arahku, tidak memperdulikan orang di sekitar kami yang memandang, mungkin terganggu dengan kehebohan kecil yang kami ciptakan.

Jakarta. 19 April 2009. 07:46:34

Aku memeluk Adyn erat, dan menangis antara haru dan juga senang karena ia ada di sana memberikan kejutan. Kemudian aku ingat kejengkelan kecilku karena ia mengabaikanku beberapa hari kemarin.

Aku pandangi wajahnya, yang kali ini tersenyum haru, dan aku yakin dia menangis pula, ekspresi yang jarang aku lihat di wajah Adyn, yang selalu senyum dan tertawa cerah apapun kondisinya.

Aku ingat untuk menarik wajahku dengan ekspresi marah yang biasanya selalu membuat senyumnya lebih lebar, namun kali ini dia makin menangis menjadi.

Aku abaikan ekpresi tidak lazim di wajahnya pagi itu dan aku bertanya padanya, ‘Tahu berapa lama kamu membuat aku cemas, hon?”

Jakarta. 19 April 2009. 07:46:38

Sempat aku ingin tertawa mendengar pertanyaan yang sama persis ia ajukan tahun lalu saat kami bertemu di tempat yang sama. Tapi aku tahu rasa cemasku yang pudar berganti rasa bahagia mencegahku untuk tertawa. Justru sebaliknya, aku sadar aku justru semakin menangis menjadi.

Semakin deras air mata di wajahku saat aku ingat jawaban yang aku berikan padanya, jawaban yang sama dengan setahun lalu yang kukatakan padanya, “3 hari saja”. Kemudian aku memeluknya erat, tidak ingin aku lepaskan dan hilang dariku lagi.

Jakarta. 19 April 2009. 07:46:41

Adyn memeluk erat diriku, sangat erat. Seolah ia tidak ingin melepas aku lagi. Ia juga berbisik di telingaku, “Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Jangan pernah”. Kemudian Adyn memelukku lebih erat.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada belahan hatiku pagi ini, aku hanya tahu bahwa ia sungguh mencintaku. Aku melupakan semua rasa cemas dan jengkelku terhadapnya. Karena aku hanya ingin memaknai hari itu, bersama dengan dirinya.

Kemudian Adyn memandangiku dengan ekspresi serius, meski tetap tersenyum, dan kemudian berkata, “Ayo pulang”. Aku mengangguk padanya dan menyambut gandengan tangannya, meninggalkan lobby yang mulai dipenuhi orang lalu lalang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: