Dalam Senyum

Senyum Pertama.

Pertama kali aku melihat senyumnya adalah saat aku pertama kali masuk kerja di supermarket ini. Meja kasir tempat aku menuntaskan tugasku sehari-hari memang berhadapan dengan pintu dan jendela yang terbuat dari kaca yang sangat besar. Dan tepat di seberang supermarket itu, ada sebuah halte tunggu kendaraan umum.

Ia ada di sana, pagi itu, sebagaimana hari-hari sesudahnya. Ia memandang lurus ke depan, seolah tidak memperdulikan apa yang ada di sekitarnya. Bagaimanapun, ia tersenyum, dengan senyum yang tulus dan terasa menyamankan hati. Aku tidak kenal dia, dan aku yakin ia juga tidak kenal aku. Sempat sesaat aku terpaku pada senyumnya itu. Hanya senyumnya.

Pembeli yang berdeham, memastikan keberadaannya di depankulah yang akhirnya mampu mengalihkan pandanganku dari pria dengan senyum itu. Sepintas dari sudut mataku, sembari melayani pembeli itu, aku lihat ada kendaraan umum yang berhenti di depan, sisi kiri pria itu. Ia melambai ke arah kendaraan umum yang berhenti itu, dengan tetap tersenyum. Dan tak lama kendaraan itu berlalu, dengan keyakinan hatiku bahwa pria itu ada di dalamnya.

Senyum Terdalam.

Entah hari keberapa aku menyadari keberadaannya dengan senyum khasnya itu di halte seberang supermarket tempatku bekerja. Dan entah sudah hari keberapa, aku mulai menggantungkan diriku pada adanya senyum pria itu untuk mencerahkan hariku.

Selalu, tidak lepas senyum itu dari bibirnya dan wajahnya. Wajah yang tampak keras, namun menjadi terkesan ramah dengan senyum itu. Wajah yang tampak kaku, namun menjadi terkesan hangat dengan senyum itu. Ia tetap duduk tegak, dengan kedua tangan tertangkup di lututnya yang bersilang santai. Pandangannya tetap lurus ke depan, sebagaimana biasa.

Terkadang aku berpikir, apa yang sedang ia lihat atau amati. Apakah lalu lalang dan lalu lintas keseharian di jalan itu. Atau supermarket di hadapannya, yang menurut aku tidak ada istimewanya. Atau mengamati pembeli yang datang berkunjung dan pergi.

Pernah suatu hari, rekan kerjaku mengamati diriku yang sedang mengamati pria itu, dan ia hanya menyebutkan bahwa pria dengan senyum itu selalu duduk di sana untuk menanti kendaraan umum sejak sebulan yang lalu.

Hari itu aku kembali mengamatinya dengan senyumnya yang seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, kecuali saat seorang ibu menggendong anak kecil yang sedang menangis, entah karena apa. Aku melihat ibu itu duduk di samping pria itu, yang kemudian perlahan, mengalihkan pandangannya ke arah anak yang menangis itu.

Tampak ia mengulurkan tangannya, yang tampak kokoh, ia mengucapkan sesuatu ke anak kecil itu, kemudian mengusap kepala sang anak. Kemudian kembali ia tersenyum sembari memandang lurus pada anak itu. Aku melihat anak itu langsung terdiam, dan tertawa. Sang ibu tersenyum, kemudian menganggukkan kepala sedikit pada sang pria, sebelum selanjutnya sang ibu dan anak menaiki kendaraan umum yang berhenti di samping kiri mereka.

Pria itu melambai, sembari tetap tersenyum, mengamati kendaraan umum yang membawa ibu dan anak tersebut. Tak lama, kendaraan umum lain berhenti di depan kiri pria itu, sang pria beranjak dari duduknya dan tak lama kendaraan itu berlalu.

Senyum Kelabu.

Hari itu cuaca tidak terlalu cerah. Kemarin sore hujan bahkan. Namun pagi itu, seperti biasa, ia duduk di sana, dan masih saja tersenyum sebagaimana hari-hari sebelumnya. Walaupun tidak ada cahaya mentari pagi yang biasanya menerangi wajahnya, hari itu senyumnya tidak berpudar sedikitpun, seolah tidak terpengaruh hari yang kelabu itu.

Aku bisa melihat ia tetap duduk tegak di sana, meski angin dingin lembab meniup dan menerbangkan daun yang bergugur di sekelilingnya. Bahkan angin itu juga sesekali menghempas rambutnya, sehingga sesekali pula ia tampak mengerjapkan mata karena rambutnya yang tertiup angin itu memasuki matanya.

Tak lama, titik hujan perlahan mulai turun. Hawa yang dingin sepertinya akan semakin dingin di luar. Ia hanya menarik jaket biru yang dikenakannya, lebih rapat. Kemudian tanpa mengalihkan pandangan lurus ke depannya, dan juga tidak merubah senyumnya, ia mengambil sebuah payung hitam panjang yang sepertinya sengaja telah ia bawa. Ia membuka dan menegakkan payung hitam itu di atas kepalanya. Melindungi tubuhnya dari rintik hujan jarang yang menari menapak bumi.

Ia terus duduk di sana, tetap tersenyum, sampai kendaraan umum yang biasa membawanya datang. Seperti biasa saat kendaraan itu datang, ia melambaikan tangannya ke arah kendaraan itu, sebelum kemudian menaikinya.

Senyum Putih.

Hampir empat putaran purnama sudah, aku bekerja di tempat ini, dan memaknai senyum pria itu setiap paginya. Dalam terang, senyum ia menjadi benderang. Dalam kelam, senyum ia menjadi penerang. Dalam lelah, senyum ia menjadi penyejuk. Dalam resah, senyum ia menjadi penenang. Dalam senyum, senyum ia menjadi anugerah.

Aku tidak tahu, apa yang ada di pikirannya, jika ia tahu setiap pagi aku memperhatikan dirinya, senyumnya dan semua hal tentang dirinya. Rekan kerjaku yang tahu kebiasaan pagi hariku sebenarnya sudah menyarankan agar aku menapakkan langkahku, menyeberangi jalan itu, dan berkenalan dengan pria itu.

Namun aku tidak berani, tidak berani berhadapan dengan pria itu, dan juga senyum itu. Tidak berani karena aku tidak beringinkan untuk kehilangan semangat setiap pagi hariku. Tidak berani sebab aku selalu inginkan ia dan senyumnya akan ada di pagi esok hari, dan hari sesudahnya, dan kemudian hari lagi.

Aku tidak berani, hingga pagi itu. Setelah aku mencermati senyum dan perilakunya, hingga ia menaiki kendaraan umum, aku melihat ada sebuah kotak kecil berbalutkan pembungkus berwarna putih. Aku yakin, itu pasti miliknya, tertinggal di halte itu.
Akhirnya aku memberanikan diri, minta izin sejenak ke rekanku, dan aku berlari kecil menyeberangi jalan itu. Aku mendekati halte tempat ia biasa duduk sembari tersenyum, lebih dekat dari yang bisa aku bayangkan. Tidak ada sesiapapun di sana.

Aku memandang ke kiri dan ke kanan, berharap ada orang lain yang datang dan melihat kotak itu, sehingga aku bisa kembali ke supermarket lagi, dan berharap agar esok ia datang dan tersenyum lagi, untukku. Namun tidak ada seorangpun di sana, hingga langkahku sudah mengantarku sampai tepat di depan kotak putih itu.

Aku raih kotak itu perlahan, aku amati kotak putih yang berbungkus rapat, berwarna putih polos. Aku menggenggam kotak yang berukuran tidak terlalu besar itu, dan kemudian berbalik, kembali ke supermarket, ke meja kasirku yang setia menemaniku setiap hari.

Senyum Kecemasan.

Tiga hari tepatnya. Tiga hari sesudah kotak itu tertinggal dan aku ambil, ia tidak tampak di sana. Hari ini adalah hari ketiganya, pagi hariku terasa kosong dan hampa. Hanya kotak putih yang aku letakkan dekat dengan kursiku sehingga aku bisa selalu mengamatinya lekat.

Beberapa kali suara-suara dalam kepalaku mendorongku untuk membakar rasa ingin tahuku, dan membuka kotak putih itu. Kotak yang kata mereka, akan bisa menjawab berjuta pertanyaan diriku tentang pemiliknya. Siapa dia, mengapa ia selalu ada di sana, mengapa ia selalu tersenyum, mengapa ia ada. Tapi aku menepis suara-suara itu, yang semakin lama semakin lirih dan bahkan berhenti memintaku membuka kotak putih itu.

Aku cemas. Entah mengapa, aku merasa cemas setelah ia tidak datang ke halte itu. Cemas yang merajai hatiku selama tiga hari itu. Aku tidak dapat bekerja dengan tenang, bahkan aku sempat melakukan kesalahan saat memberikan kembalian kepada pembeli. Selalu aku hanya dapat tersenyum cemas dan tertunduk untuk meminta maaf kepada mereka.

Aku bersyukur karena mereka tampak dapat memahami keresahanku, dan mereka selalu mengangguk kecil, tersenyum dan berkata bahwa tidak apa jika kita sesekali melakukan kesalahan.

Senyum Terkembang.

Hari itu ia kembali ada di sana. Duduk sebagaimana biasanya, dengan senyum sebagaimana mestinya. Aku tidak dapat merasakan lebih lagi dari senang dan bahagia. Ingin aku melompat dan menghampirinya, namun rasa takutku mencekam dan mencegahku untuk pergi.

Keberadaan kotak putih di genggaman tangankulah yang memberikan kekuatan tak terhingga. Seolah memberikan daya, kotak itu mendorongku untuk berjalan perlahan keluar dari supermarket. Menuntunku perlahan, seolah ia berkata padaku untuk mengembalikannya kepada sang pemilik.

Aku terus berjalan dan memijak bumi, berat dan lambat. Hingga wajah pria yang selalu aku amati di setiap pagi hariku berjarak tidak lebih selangkah dariku. Aku hanya terdiam saja, antara takut dan senang. Bahagia dan cemas.

Rambutnya lebih lembut dari yang bisa aku lihat dari kejauhan. Wajahnya lebih tegas dari yang bisa aku bayangkan dari kejauhan. Hidungnya lebih tajam dari yang aku gambarkan dari kejauhan. Dagunya lebih kokoh dari yang aku dendangkan dari kejauhan. Alis dan matanya lebih tajam dari yang dapat aku ingat.

Sesaat ia hanya terdiam dan hanya menatap lurus ke depan, tetap tersenyum. Tak lama ia mengangkat pandangannya, dan menatap wajahku lekat. Kemudian senyumnya terkembang lebih lebar. Lalu ia berdiri. Ia lebih tinggi dariku dan dari dugaanku. Aku memandang wajahnya sebelum kemudian aku tertunduk, melihat senyumnya dan pandang tajam matanya ke arahku.

“Hai”, katanya. “Ada yang bisa aku bantu?” Suaranya berat dan dalam, namun sangat jelas. Aku tetap terdiam. Dan dia tetap tersenyum. Lalu aku menyorongkan kedua tanganku dengan kotak putih di dalam genggamannya. Terlalu bersemangat, sehingga tanpa sengaja aku menumbuk pelan perutnya.

Ia tampak sedikit terkejut, namun tetap tersenyum. “Apa ini?”, katanya. Kemudian ia meraih kotak putih itu dari tanganku. “Ah, akhirnya. Terima kasih”. Senyumnya berseri-seri.

Aku hanya mengangguk pelan, masih belum berani menatap ia yang memandangku setajam sebelumnya, meski dengan senyum yang lebih mencerahkan. Saat itulah aku dengar suara klakson kendaraan umum, sepertinya yang biasa menjemputnya di setiap pagi.

“Aku harus pergi”, ia berkata. “Besok bisa bertemu lagi? Aku ingin ucapkan terima kasih. Aku tunggu besok di sini ya!” Katanya sembari berjalan perlahan ke arah kendaraan yang sudah menunggunya. Ia langsung menuju kursi depan yang kosong, menutup pintunya, dan saat kendaraan itu berjalan melewatiku, ia menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan berteriak padaku, “Namaku Septa. Ketemu besok”.

Aku hanya mengangguk dan memandangi kendaraan yang perlahan menjauh itu. Senyum terkembang di wajahku. Ingin berteriak dan melompat, namun aku ingat aku harus kembali bekerja, segera.

Senyum Dalam.

Pagi itu aku merasakan kecemasan yang menggembirakan. Aku mempersiapkan pekerjaanku hari itu lebih cepat dari biasanya. Aku sudah siap untuk melayani pembeli satu jam lagi, saat aku melihat ia perlahan berjalan mendekati halte itu. Lalu ia duduk, tegak, dan memandang lurus ke depan dengan tersenyum cerah, seperti biasanya.

Aku memandang rekan kerjaku, dan ia tersenyum mengangguk. Aku lalu beranjak dari tempat dudukku, dan keluar dari supermarket. Aku berjalan perlahan mendekati Septa, yang masih saja duduk tegak dan memandang lurus sembari tersenyum. Aku menjadi jengah, karena tidak terbiasa berjalan sembari diamati. Namun aku tetap berjalan menyeberang jalan.

Saat aku tiba di hadapannya, ia berkata, “Hai, apa kabar? Duduk di sini”, katanya sambil menepuk pelan sisi kosong di sebelah kanannya. Aku tersenyum untuk berterima kasih, dan kemudian duduk di sebelahnya.

Ia tidak langsung menanggapi aku yang akhirnya duduk di sebelahnya. Ia tetap memandang lurus ke depan dan tersenyum. Beberapa saat kemudian baru ia menatapku dengan pandangan tajamnya, tersenyum lebih lebar dan berkata, “Lagi. Namaku Septa”. Ia menjulurkan tangan kannannya. Aku menyambut tangan itu, namun tidak ada kata yang keluar dari bibirku. Aku hanya tertunduk saja.

Septa masih tersenyum dan bertanya padaku, “Namamu siapa?”. Tetap aku terdiam, tidak berani aku menatapnya. Kemudian Septa menarik nafas, lembut, dan berkata, “Yah, nama mungkin pada akhirnya tidak penting ya”.

Ia menyorongkan sebuah tas kertas berwarna biru muda kepadaku. “Ini untukmu, karena sudah menjagakan kotak putihku”. Ia tersenyum, dalam, sedalam kesungguhan kata-katanya. Aku memandang wajahnya, tersenyum untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, dan kemudian menerima tas kertas itu.

Sebuah boneka beruang berwarna coklat muda ada di dalamnya. Boneka itu memeluk kertas kaku berwarna putih bertuliskan THANKS, dengan tinta berwarna biru terang. Aku memandangnya, mencoba memahami pemberian yang menurutku lebih dari apa yang sudah aku lakukan.

Ia seolah tahu pertanyaan yang aku miliki meski aku tidak ajukan. Ia yang sudah memandang lurus ke depan lagi sembari tersenyum berkata, “Kotak putih itu isinya obat untuk adikku. Aku terlupa mengeluarkan dari tasku hari sebelumnya. Aku baru sadar obat itu ada di tasku pagi sesudahnya, dan seperti kamu sudah tahu, tertinggal di halte ini. Obat itu tidak mudah untuk aku dapatkan, sehingga kehilangannya akan menjadi kesulitan besar untukku. Oleh karena itu, kotak putih itu sangat berharga untukku.”

Terdengar klakson, tanda ia harus pergi dengan kendaraan umum yang biasanya. “Maaf aku harus pergi sekarang. Besok bertemu lagi? Dan semoga besok aku boleh tahu nama kamu”. Dan ia bangkit, agak tergegas, namun tetap ia berjalan perlahan ke arah kendaraan umum yang menunggu itu. Kembali ia duduk di depan, dan ia melambai bersemangat sambil tersenyum saat kendaraan itu berlalu.

Aku memegang erat boneka cantik berwarna coklat itu sambil memandangi kendaraan yang membawanya semakin jauh. Saat kendaraan itu sudah hilang dari pandangan, aku mengalihkan pandangan ke boneka yang ada di tanganku, mengamati kertas putih kaku itu, dan menyadari kalau kertas itu berupa kartu kecil. Aku ambil dan aku buka. Di dalamnya tertulis rapih:

Thanks for saving my sister’s life.
Septa.
septa_waruna@cwsn.or.id

Aku tersenyum, dalam, bersyukur atas penghargaan yang aku dapat dari pria yang selalu mengisi pagi hariku dengan bahagia. Aku merapikan pemberian dari Septa, dan bergegas kembali ke supermarket.

Senyum Akasha.

Pagi itu aku memutuskan untuk memberitahunya. Namaku dan tentang diriku. Aku tuliskan namaku besar-besar di selembar kertas putih bersih. Aku bergegas menuju halte di depan tempatku bekerja.

Hari itu aku libur, jadi aku tidak mengenakan seragam seperti biasa. Aku melihat jam, dan aku tahu sebentar lagi biasanya ia akan sampai di halte itu. Aku mempercepat langkahku.

Dan ternyata ia sudah ada di sana, dengan tegaknya, dengan senyumnya. Aku mendekatinya dengan langkah kecil dan ragu. Saat itulah ia berkata, “Hai. Aku sudah tunggu dari tadi”.

Aku kemudian duduk di sebelah kanan Septa. Ia menatap wajahku kali ini, tetap tersenyum. “Kabar baik hari ini?” Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ia juga tesenyum, kemudian menatap lurus ke depan lagi. Sunyi melingkupi kami berdua. Aku memandangi supermarket tempatku bekerja, dan ternyata kasir terlihat dengan sangat jelas dari tempat ini.

Sesaat aku merasa canggung dan malu. Tapi kemudian aku menggamit lengan Septa, dan ia memandang ke arahku. Aku berikan kertas yang sudah aku siapkan dari rumah, yang bertuliskan namaku. Aku letakkan kertas itu di telapak tangan kanannya. Ia memegang kertas itu dengan lembut, sembari memandang ke arah tangannya sendiri.

Kemudian ia memandangku lagi, tersenyum dan berkata, “Terima kasih. Tapi dapatkah kau membacakannya untukku? Aku tidak dapat melihat. Maaf”

Saat itulah aku menyadari apa yang selalu ia lihat dan pandang setiap harinya. Ia melihat kegelapan, ia memandang ketenangan. Pria yang selalu mengisi hariku di setiap pagi, memberikan senyum, lebih dalam dan bermakna ketimbang pandangnya.

Aku merasa bersalah, dan tertunduk kelu, hampir air mata menuruni pipiku. “Jadi? Apa isi kertas itu?” Aku memandang Septa, yang mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku dapat melihat mata yang tajam itu, tanpa binar, tanpa cahaya meski bersih putih dengan bola mata yang hitam legam.

Kali ini air mata berderai di pipiku. Aku pandangi ia, lekat, kemudian aku ambil kertas di telapak tangan kanannya. Aku letakkan kertas itu di sebelahku, kemudian aku raih telapak tangan Septa. Aku tepuk perlahan telapak tangan itu, dan aku tuliskan pelan-pelan namaku di sana. A. K. A. S. H. A.

Ia memandang ke arahku, tersenyum dan berkata, “Nama yang indah”. Aku tersenyum, dan aku tuliskan di telapak itu. Terima kasih. “Sama-sama”, katanya.

Aku terisak pelan, dan ia menarik tangan kanannya perlahan, dan mengusap rambutku lembut, “Jangan menangis lagi ya”, dan ia tersenyum. Aku mengangguk, mengusap sisa air mataku, dan aku tarik pelan telapak tangan kanan Septa. Aku torehkan lembut bentuk lengkung di tangan yang kuat itu.

Septa tersenyum, “Kamu tersenyum, seperti aku juga”. Lalu ia menggenggam erat kedua tanganku, tersenyum ke arahku.

Pagi itu terasa lebih indah daripada seharusnya. Pagi itu terasa lebih bahagia ketimbang semestinya. Pagi itu, di halte yang biasa aku pandangi, kali ini aku memandangi tempatku bekerja, memandanginya bersama Septa, sang lelaki dalam senyum.

1 Komentar »

  1. Adita Dwi Putrianti said

    dan setelah aku selesai membaca aku juga bisa merasakan senyum itu
    cool..
    jadi inget bang edja pernah ngliatin ke aku film orange days..film Jepang.tapi si cewek tuna rungu..yang cowok normal. Dan cara berkomunikasi mereka sangat manis.dengan berbagai gesture seperti ceritamu.
    tapi aku masih bingung..di sini, di awal si cewek tampak normal, tapi diakhir kok dia kaya tuna rungu?g mo ngmg gt..apa emang tuna rungu??
    semakin seru kalo 22nya punya kekurangan..
    hee

    ok..dah siap ni jadi film.bungkuusss!!!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: