Janji Seroja

Januari, 13. 15.47. Seroja Ingkar Janji

Sunyi hari itu. Tidak banyak manusia yang berhendak duduk dan menanti di taman yang sebiasanya indah, tidak seperti sore itu. Mungkin karena angin kering yang berembus, tidak pelan, terbangkan daun coklat kuning mengering, bersama butiran debu. Udara yang panas melengkapi keresahan penantianku dalam sunyi hari itu. Pengap, cemas berharap.

Ia, seroja hatiku, berjanji hadir sore itu. Di sisi mata angin utama, sebagaimana kami biasa memberikan kepercayaan hati kami masing-masing. Di saat mana aku berkeluh kesah dan ia meluaskan hatinya untukku. Di saat ketika ia berkeluh kesah dan aku melapangkan hatiku untuknya.

Sudah empat puluh tujuh menit aku menanti, tak jua tertampak olehku ia berlari kecil sebagaimana biasa, melambai padaku dengan senyum malaikat masaku. Menit ke empatpuluh delapan, namun tetap tidak ada perubahan, hingga kecemasanku semakin menjadi.

Satu menit menuju dua pertiga hari itu, dan saat itulah aku melihatnya di seberang jalan yang biasa, berlari kecil seperti biasa, tersenyum seperti biasa dan melambai seperti biasa. Aku bangkit dari dudukku, melambai dan tersenyum melebihi biasanya, mencoba mengusir kecemasan yang sebelumnya meraja. Seroja berlari, menengok ke kiri dan ke kanan, menyeberang jalan, tepat bersamaan saat ada suara sayup memanggilku dari sebelah kananku.

Ari”, ujar suara itu. Aku memalingkan kepalaku, memandang sejenak ke suara itu berasal. Ia ada di sana, perempuan yang tidak kukenal, namun aku tidak merasa asing dengannya, tidak hari ini. Ia hanya tersenyum, kemudian melambai memanggilku. Aku tercekat sejenak, serasa ingin menghampirinya, namun aku teringat Seroja, serojaku.

Aku mengabaikan perempuan itu dan memandang ke arah Seroja, saat itulah aku sadari serojaku tidak lagi ada, menghilang. Aku memandang susuri sekeliling jalan terakhir aku melihatnya, sepi, sunyi. Tidak ada seseorangpun di sana. Dan aku menyadari pula bahwa pada saat yang sama aku tidak lagi bersama sesiapapun di taman itu. Aku sendiri. Aku berlari ke arah terakhir aku melihat Seroja, dengan kecemasan yang jauh melampaui sebelumnya.

Kemudian langit menjadi lebih gelap, jalan yang kutuju tampak menjadi lebih jauh, taman yang kuning mengering menjadi sewarna batu, dan aku terjatuh. Dalam, sungguh dalam ke dalam aura yang kelam.

Januari, 14. 15.46. Seroja Ingkar Janji, Lagi

Sunyi hari itu. Tidak banyak manusia yang berhendak duduk dan menanti di taman yang sebiasanya indah, tidak seperti sore itu. Mungkin karena angin kering yang berembus, tidak pelan, terbangkan daun coklat kuning mengering, bersama butiran debu. Udara yang panas melengkapi keresahan penantianku dalam sunyi hari itu. Pengap, cemas berharap.

Ia, seroja hatiku, berjanji hadir sore itu. Di sisi mata angin utama, sebagaimana kami biasa memberikan kepercayaan hati kami masing-masing. Di saat mana aku berkeluh kesah dan ia meluaskan hatinya untukku. Di saat ketika ia berkeluh kesah dan aku melapangkan hatiku untuknya.

Sudah empat puluh enam menit aku menanti, tak jua tertampak olehku ia berlari kecil sebagaimana biasa, melambai padaku dengan senyum malaikat masaku. Menit ke empatpuluh tujuh, namun tetap tidak ada perubahan, hingga kecemasanku semakin menjadi.

Dua menit menuju dua pertiga hari itu, dan saat itulah aku melihatnya di seberang jalan yang biasa, berlari kecil seperti biasa, tersenyum seperti biasa dan melambai seperti biasa. Aku bangkit dari dudukku, melambai dan tersenyum melebihi biasanya, mencoba mengusir kecemasan yang sebelumnya meraja. Seroja berlari, menengok ke kiri dan ke kanan, menyeberang jalan, tepat bersamaan saat ada suara memanggilku dari sebelah kananku.

Ari”, ujar suara itu. Aku memalingkan kepalaku, memandang sejenak ke suara itu berasal. Ia berdiri dekat di kananku, perempuan yang tidak kukenal, namun aku tidak merasa asing dengannya, tidak hari ini. Ia hanya tersenyum, kemudian berkata “Ayo, ikut aku”, kemudian tersenyum lagi, tulus. Aku tercekat sejenak, serasa ingin mengikuti panggilannya, namun aku teringat Seroja, serojaku.

Aku mengabaikan perempuan itu dan memandang ke arah Seroja, saat itulah aku sadari serojaku tidak lagi ada, menghilang. Aku memandang susuri sekeliling jalan terakhir aku melihatnya, sepi, sunyi. Tidak ada seseorangpun di sana. Dan aku menyadari pula bahwa pada saat yang sama aku tidak lagi bersama sesiapapun di taman itu. Aku sendiri. Aku berlari ke arah terakhir aku melihat Seroja, dengan kecemasan yang jauh melampaui sebelumnya.

Kemudian langit menjadi lebih gelap, jalan yang kutuju tampak menjadi lebih jauh, taman yang kuning mengering menjadi sewarna batu, dan aku terjatuh. Dalam, sungguh dalam ke dalam aura yang kelam.

Januari, 15. 15.45. Seroja Kembali Ingkar Janji

Sunyi hari itu. Tidak banyak manusia yang berhendak duduk dan menanti di taman yang sebiasanya indah, tidak seperti sore itu. Mungkin karena angin kering yang berembus, tidak pelan, terbangkan daun coklat kuning mengering, bersama butiran debu. Udara yang panas melengkapi keresahan penantianku dalam sunyi hari itu. Pengap, cemas berharap.

Ia, seroja hatiku, berjanji hadir sore itu. Di sisi mata angin utama, sebagaimana kami biasa memberikan kepercayaan hati kami masing-masing. Di saat mana aku berkeluh kesah dan ia meluaskan hatinya untukku. Di saat ketika ia berkeluh kesah dan aku melapangkan hatiku untuknya.

Sudah empat puluh lima menit aku menanti, tak jua tertampak olehku ia berlari kecil sebagaimana biasa, melambai padaku dengan senyum malaikat masaku. Menit ke empatpuluh enam, namun tetap tidak ada perubahan, hingga kecemasanku semakin menjadi.

Tiga menit menuju dua pertiga hari itu, dan saat itulah aku melihatnya di seberang jalan yang biasa, berlari kecil seperti biasa, tersenyum seperti biasa dan melambai seperti biasa. Aku bangkit dari dudukku, melambai dan tersenyum melebihi biasanya, mencoba mengusir kecemasan yang sebelumnya meraja. Seroja berlari, menengok ke kiri dan ke kanan, menyeberang jalan, tepat bersamaan saat ada suara jelas memanggilku dari sebelah kananku.

Ari”, ujar suara itu. Aku memalingkan kepalaku, memandang sejenak ke suara itu berasal. Ia duduk di sampingku, perempuan yang tidak kukenal, namun aku tidak merasa asing dengannya, terlebih hari ini. Ia hanya tersenyum, kemudian berkata “Ayo ikut aku pulang”, kemudian tersenyum lagi, tulus. Aku tercekat sejenak, kemudian membalas senyumannya. Ia memberikan tangannya padaku, kuraih tangan itu, namun aku teringat Seroja, serojaku.

Aku mengabaikan perempuan itu dan memandang ke arah Seroja, saat itulah aku sadari serojaku tidak lagi ada, menghilang. Aku memandang susuri sekeliling jalan terakhir aku melihatnya, sepi, sunyi. Tidak ada seseorangpun di sana. Dan aku menyadari pula bahwa ada saat yang sama aku tidak lagi bersana sesiapapun di taman itu, kecuali perempuan itu yang memegang tanganku, erat. Aku hendak berlari ke arah terakhir aku melihat Seroja, dengan kecemasan yang jauh melampaui sebelumnya. Tapi perempuan itu memegang tanganku lebih erat, kemudian menarikku ke arahnya.

Kemudian langit menjadi lebih gelap, jalan yang kutuju tampak menjadi lebih jauh, taman yang kuning mengering menjadi sewarna batu, dan aku terjatuh. Dalam, sungguh dalam ke dalam aura yang kelam.

Januari, 1, tahun 2005. 16.00. Catatan Perkembangan Subyek

Nama Subyek : Aria Raynaard Pusaka, Tuan.

Usia Subyek : 27 th.

Catatan umum :

Perkembangan subyek hari ini sangat baik. Ia tidak lagi mencari Serojanya, meski sempat menunjukkan upaya untuk itu. Subyek bereaksi positif atas stimulus eksternal yang diberikan, dan menunjukkan tanda keinginan untuk berkomunikasi dengan pihak eksternal, dalam hal ini terapis. Disarankan agar

Aku berhenti menuliskan kalimat-kalimat yang telah aku geluti tiga tahun terakhir ini saat pandanganku terpaku pada sepotong foto. Foto pria yang mengisi lebih dari separuh hidupku sejak masa perawatannya dimulai.

Pria yang bermata sayu, dengan pandangan kosong, duduk di bangku kosong di taman yang biasanya aku datangi bersamanya di sore hari, selalu. Kami sering berbicara, setidaknya aku yang berbicara banyak, saat ia memandang terus ke sisi utara taman, tempat terakhir ia melihat kekasih hatinya, tiga tahun lalu.

Mereka saling berjanji untuk bertemu dan membicarakan rencana hati mereka di masa yang akan datang. Janji yang tidak pernah terpenuhi karena janji sang Pencipta atas hidup Seroja telah usai hari itu, dan ia harus kembali padaNya.

Aku memandang wajah di foto itu lagi, dalam, sedalam aku memandang wajahnya pada setiap soreku, yang serasa tiada henti dan membuatku selalu menantikan sore selanjutnya. Kemudian aku kembali pada catatanku.

Maret, 10, tahun 2005. 15.47. Janji Seroja

Sunyi hari itu. Tidak banyak manusia yang berhendak duduk dan menanti di taman yang selalu indah, seperti sore itu. Meski sunyi, tak terasa sepi taman itu, juga diriku.

Ia, seroja hatiku, berjanji hadir sore itu. Di sisi kanan dari mata angin utama, sebagaimana kami biasa memberikan kepercayaan hati kami masing-masing. Di saat mana aku berkeluh kesah dan ia meluaskan hatinya untukku. Di saat ketika ia berkeluh kesah dan aku melapangkan hatiku untuknya.

Sudah empat puluh tujuh menit aku menanti, tak jua terdengar suaranya memanggilku, menyebut namaku dan menggenggam tanganku untuk membawaku pulang. Menit ke empatpuluh delapan, namun tetap tidak ada perubahan, hingga kecemasanku mulai lahir membawa kebisuan yang mencekam di hati.

Satu menit menuju dua pertiga hari itu, dan saat itulah aku mendengar suara hangatnya menyapaku seperti biasa. Aku memalingkan kepalaku, memandang sejenak ke suara itu berasal. Ia ada di sana, perempuan yang kukenal, serasa akrab dan tanpa rasa asing. Ia adalah serojaku. Ia meraih tanganku, menarikku ke arahnya, dan ia lalu memelukku, erat. Kemudian ia berbisik, jelas di telingaku, “Aku tidak akan pernah ingkar janji. Untukmu, dan bagiku pula”.

Saat itu langit menjadi lebih cerah, taman yang indah menjadi lebih berwarna, dan aku tersenyum. Dalam, sungguh dalam ke dalam hati yang tentram.

———————————————————————————-

Malang, 27 Oktober 2006.

2 Komentar »

  1. rhenii said

    hmmmm…..
    tepatnyaa..apa yang lagi lo rasain mas waktu nulis inii???
    hehee…

  2. Adita Dwi Putrianti said

    setelah membaca cerpen kedua, berasa udah kenal gaya bahasa dan gaya menulismu mas..
    another interesting written though!!
    dan seperti biasa aku langsung memvisualisasikannya..tapi terlalu fancy dengan New York Central Parknya.hahaha
    aku langsung mengimprovisasinya dengan..bagaimana kalo di ending cerita ternyata si perawat yang ternyata lost her mind..dia adalah orang yang terlalu obsessed dengan pekerjaan seorang perawat. tapi dia g bisa karena masalah kehilangan yang sama dengan subjek yang di bayangannya dia amati.
    sort of like ‘The others’ versi sakit jiwa.
    hahha..aku disuru comment kok malah bikin cerita baru ki piye too..
    hahaa
    tapi berhati-hatilah dengan pengulangan cerita yang terlalu banyak ( in terms of the sentences ) menurutku kalo di visualkan gpp malah..tapi kalo di cerpen bisa aja pembaca nge skip bagian itu karena udah apal.hee
    jyah aku sok pakar perbahasaan g si.
    good job, sir!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: